Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Saturday, 9 May 2020

KELUARGA SAKINAH



Keluarga adalah harta yang paling berharga. Yang selalu ada dalam suka maupun duka. Orang terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Walaupun di dalamnya tak selalu sempurna, tetapi keluargalah yang paling utama.Maka, kewajiban bagi kita adalah mendo’akan keluarga. Berdo'a untuk orang tua, saudara, pasangan (jika sudah menikah), dan anak (jika sudah dikarunai) agar senantiasa diberi ketenangan atau sakinah. Karena ketenangan itulah kunci bahagia.
Sakinah memiliki arti kedamaian, ketentraman, ketenangan. Tenang jika orang tua senantiasa mendidik keluarganya dengan akhlak dan agama, bukan hanya memberi hal yang bersifat materi atau duniawi saja. Tenang jika pasangan selalu mengingatkan bahwa akhirat selamanya dan surga tujuannya, bukan menuntut dan berbangga dalam hal dunia. Tenang jika anak tekun ibadahnya dan berbakti kepada orang tuanya, bukan yang hanya fokus hingga pelajaran atau mata kuliahnya selalu mendapat nilai A. Semoga kita semua menjadi sumber ketenangan bagi keluarga kita. Dengan berusaha menjadi lebih baik dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga kita dikaruniai keluarga yang sakinah dan bahagia. Sehingga jangan lupa untuk terus mendo'akan keluarga.
Doa Keluarga Sakinah
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)

Sunday, 26 April 2020



Semakin banyak melangitkan doa, semakin berjalannya waktu, 
justru semakin ingin berserah. 
Belajar untuk mengikhlaskan apa-apa yang telah Allah takdirkan, 
belajar untuk menerima bahwa apa-apa yang telah Allah tetapkan adalah yang terbaik. 

Bila ada masanya ujian menyapa semoga menjadi ladang penghapus dosa-dosa diri, 
dan atas kebahagiaan yang senantiasa menyapa semoga menjadikan diri lebih banyak lagi bersyukur pada-Nya. 
Bahkan seharusnya selalu bersyukur sebab kita tidak dibiarkan oleh Allah, 
tapi diberikan ujian. Sebagaimana janji-Nya, bila Allah mencintai seorang hamba, 
maka Allah akan memberikan ujian. Maha Baik Allah.

KETIKA HIDAYAH TIBA...

Ketika hidayah tiba.
Bukan tentang seberapa lama telah terlewatkan usia. Bukan juga perihal sesiapa yang pantas menerima. Tidak pula tentang kuat atau lemahnya daya upaya.

Ketika hidayah menghampiri.
Ia akan datang kepada yang Tuhan kehendaki. Tak ada lagi yang bisa membelokkan ke kanan kiri. Biarpun semesta coba halangi, ia tak akan sedikitpun meleset meski hanya satu senti. Ia akan menyentuh tepat di lubuk hati.

Ketika hidayah menyapa.
Sambutlah ia dengan sahaja, doakan dengan sungguh. Jemputlah ia dengan cinta, berikan ruang pada hati untuk tumbuh. Terimalah ia dengan terbuka, agar rasa dan logika berselaras saling merengkuh.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ

Yaa Allah aku mintakan pada-Mu hidayah serta kebenaran, yang darinya Engkau berikan kami petunjuk dan menitinya dengan lurus hingga akhir labuhan.

Wednesday, 22 April 2020

DIA DEKAT DENGAN-MU



Sedarlah wahai hati yang resah
Dia sentiasa dekat denganmu
Dikala engkau berduka
Kau membaca kalam wahyu Nya
Nescaya engkau akan merasakan
Dia sedang berkata-kata denganmu

Masya Allah, ketika itu
Tangisanmu menjadi lagu
Kerana engkau tahu
Dia dekat sekali disisimu

Jika ingin berbicara dengan Nya
Dirikanlah solat
Bila inginkan Dia menyapa
Bacalah Al Quran



TIANG KEKUFURAN



 Tiang kekufuran  

       Sombong 
Sombong akan menghalangi seseorang dari ketundukan.
Jika tiang kesombongan itu runtuh,
dia akan mudah untuk melakukan ketundukan kepada Allah.

Dengki
Dengki akan menghalangi seseorang dari kesediaan
untuk menerima nasihat dan memberi nasihat.
Jika tiang kedengkian itu tumbang,
dia akan mudah untuk menerima dan memberi nasihat.  

Amarah
Amarah menghalangi diri untuk bersikap adil.
Jika tiang amarah itu roboh,
dia akan mudah untuk bersikap adil dan tawadhu. 

Syahwat
Syahwat akan menghalangi jiwa untuk mencurahkan
waktu dalam rangka ibadah.
Jika tiang syahwat itu jatuh,
dia akan mudah untuk bersikap sabar, menjaga kehormatan diri dan beribadah.


 Memindahkan gunung dari tempatnya menetap lebih mudah 
dibandingkan melenyapkan keempat hal ini
dari diri orang yang telah terjangkiti empat penyakit itu.


TANDA-TANDA IKHLAS


Tanda tanda ikhlas

* Tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih diatas kebaikannya
* Tidak terasa hati walaupun kebaikannya tak dihargai orang
* Tidak terasa hati bila orang lain mendapat kredit atas kebaikan yang dia lakukan
* Tidak berkurang kebaikan yang dilakukannya walau dia dikeji, dihina dan dicela atas kebaikan yang dia lakukan
* Tidak berhenti melakukan kebaikan walau pun kebaikannya tak dihargai
* Tidak merasa hebat atas kebaikan yang dia lakukan
* Tidak merasa diri penting atas kebaikan atau bantuan yang dilakukan atau diberi, dirinya hanya alat perantaraan bagi Allah swt menyampaikan pertolongan dan bantuan
* Tidak penting baginya orang lain mengetahui atau tidak kebaikan yang dia lakukan
* Banyak amalan kebaikan khususnya yang sunat dilakukan dengan sembunyi sembunyi untuk menjaga hatinya dan sebahagian yang lain secara terang terangan untuk dijadikan contoh dan pendorong orang lain melakukan kebaikan yang sama
* Tidak sama sekali memperkecil kecilkan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain
* Merasa segala kebaikan dan amalan baiknya hanyalah dengan izin dan rahmat Allah swt atas dirinya.

" Jangan ragu berbuat baik dan jangan mengharap balasan . Pada akhirnya buah perbuatan akan selalu mengikuti kita . "
~ Al-Habib Syech As-Seggaf ~



BICARA HATI HAMBA



Duhai diri..
Tetaplah rendah hati..
Begitu banyak orang sombong di luar sana. 
Tolong jangan jadi seperti mereka. 
Kita punya Tuhan, maka bersikaplah selayaknya manusia ber-Tuhan.
Kepintaran fikiran bisa jauh menembus tinggi di atas langit.
Bisa dalam menembus kedalaman bumi.
Tapi biarkan hati dan kakimu tetap pada pijakannya 
Agar kau selalu ingat dari mana asalmu.

"Berjalanlah dimuka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang jahil menyapa, ucapkanlah kata-kata yang baik."  (Surah Al Furqaan: 63)

Tuesday, 14 January 2020

SABAR DAN REDHA



Setiap musibah yang berlaku  adalah ruang masa untuk berfikir dan bermuhasabah. Ia adalah isyarat rasa cinta Allah kepada manusia. Namun itu semua tidak mungkin kita nikmati andainya kita memikirkan dengan hikmah dan mata hati.

Boleh jadi sedikit musibah dan ujian yang mencelah-celah disebalik nikmat kehidupan yang panjang adalah pengikis karat-karat dosa yang menumpuk di dinding jiwa. Semoga ianya tidak dibalas akhirat kelak kerana telah redha di dunia ini. Moga begitu hendaknya...


"(Sebenarnya) apa yang ada pada kamu akan habis dan hilang lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal; dan sesungguhnya Kami membalas orang-orang sabar dengan memberikan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka telah kerjakan." [an- Nahl : 96]



Friday, 19 July 2019

SABAR LEBIH BAIK



BERSOSIAL+SABAR LEBIH BAIK

Kita hidup di dunia ini bukan berseorangan. Kita hidup cara berkelompok dengan manusia lain yang kaya dengan pelbagai kerenah berbeza. Kadang kala, jiwa diuji dengan kerenah yang cukup menjengkelkan. Hati hilang sabar!

"Ish, ada juga manusia seteruk itu," bebel kita tanda tidak puas hati. Namun apakah sikap mukmin apabila berdepan dengan kerenah manusia yang sering menguji kesabaran ini?

Sebelum apa-apa, Rasulullah s.a.w. sudah mengingatkan, "Seorang Mukmin yang bercampur dengan manusia dan bersabar atas kejahatan mereka lebih besar ganjaran untuknya berbanding orang Mukmin yang tidak bercampur dengan manusia dan tidak bersabar atas kejahatan mereka." [Riwayat Ibn Majah]

Jadi sekarang kita sudah tahu kemahiran sosial yang dilengkapkan dengan pakej bersabar dengan keletah manusia lain jauh lebih baik berbanding duduk menyendiri.






FAHAMI PSIKOLOGI MANUSIA

Walaupun kita ini sama-sama manusia, namun kita belum tentu mampu memahami kerenah manusia lain. Lebih-lebih lagi manusiayang bersikap dan bersifat lain daripada manusia biasa.

Oleh itu, jika kita faham psikologi manusia, pasti kita akan bersikap lebih terbuka apabila berdepan dengan perangai manusia yang menuntut kesabaran. Kadangkala, apabila sikap seseorang itu berlainan atau menjengkelkan, pasti ada sebab yang menjadi punca seseorang bertindak demikian.


TELADAN NABAWI

Rasulullah s.a.w. hampir tidak pernah meletakkan sempadan atau mahu masa bersendiri melainkan sewaktu beribadah atau berkhalwat dengan Rabb. Selain itu, Baginda bergaul dengan orang ramai.

Cabaran yang Baginda hadapi bukan kecil. Baginda berdepan dengan golongan kafir dan musyrik yang memusuhi Baginda, Arab Badwi yang masih perlu dididik, sahabat yang sentiasa dahaga bimbing dan banyak lagi. Itu belum dikira lagi peperangan yag Baginda hadapi.

Namun Baginda mempunyai tahap kesabaran yang tinggi, bahkan bijak berdepan dengan pelbagai kerenah manusia dan situasi yang berbeza.



Saturday, 13 July 2019

USAH DIRUNDUNG MURUNG



Berbicara tentang manusia....

Walaupun kita ini sendiri manusia, belum tentu kita mampu memahami manusia dengan begitu baik dan tuntas. Sering kali juga kita gagal memanusiakan sikap kita terhadap manusia.

Manusia adalah makhluk yang begitu unik. Ia ada perasaan dan akal. Ada aspek spiritual yang perlu dibelai dengan kualiti iman dan Islam, selain fizikal yang menjadi amanah untuk dijaga sebaiknya. Sebab itulah kadangkala kita gagal memahami manusia lain. Terlalu banyak aspek yang bergabung membentuk manusia.

Nampak sahaja pelbagai tingkah laku manusia, pantas mulut membuahkan pendapat. Pelbagai komen meluncur laju sehingga kadang kala mengguris hati dan perasaan. Dan kita mampu berlalu pergi begitu sahaja tanpa toleh dan boleh pula tersenyum puas.

Sedangkan kita terlupa, manusia ini sering kali terlepas kendali. Kita sendiri pun pernah berkali-kali. Bahkan sering sekali. Ada individu yang mempunyai tahap toleransi yang rendah terhadap tekanan yang dihadapi, lantas berubah tingkah.

Sikap kita? Bukan ingin menunding perbuatan yang salah,cuma ingin memandu tingkah supaya mereka mampu pantas bingkas. Ini sepatutnya.

Hakikatnya, kita sedar betapa tidak mudah menjadi manusia. Mujahadah masih panjang, sedangkan masa makin suntuk. Amalan masih perlu diganda sebagai bekal, sedangkan pada masa yang sama dosa tidak pernah lekang daripada bekal tersebut. Bahkan sering juga dunia menang berkali-kali, sedangkan akhirat tergadai....

Ketika melihat ada manusia lain terlepas kendali, ia sepatutnya membawa bukan sahaja dia. bahkan kita juga untuk lebih berpaut erat dengan tali Allah. "Sesungguhnya orang yang berkata, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka tetapkan pendirian, maka tidaklah mereka takut dan tidak akan berdukacita." [Surah al-Ahqaf 46:13]


Ketika itu, tiada takut atau dukacita yang mampu menyebabkan kita murung kerana kita tahu kita tidak mahu terlepas kendali. Bahkan kita juga bijak dengan tidak menilai atau mencemuh individu lain yang kemurungan, bahkan sudi pula menjadi bahu tempat dia bersandar dan meminjam telinga menjadi pendengar yang membina kembali kekuatan jiwanya.....

~sumber majalah solusi



Tuesday, 9 July 2019

DUNIA TEMPAT MEMBAYAR



Dunia hakikatnya ialah gelanggang mujahadah. Kita di sini untuk menanam. Di sana [akhirat] nanti barulah kita menuai.Musim bertanam tentulah payah:

* Mencangkul
* Membaja
* Menjaga daripada serangan serangga.
Bahkan bermacam-macam lagi kesusahan. Apabila menuai nanti, baru terasa nikmat dan keseronokannya.

Dunia ini juga diumpamakan sebgai tempat "membayar". Di akhirat nanti tempat "bermain". Jadi pay now, play later iaitu bayar di sini [dunia], "berseronoklah" di sana [akhirat].

Apa-apa saja di dunia ini menuntut bayaran.

Pilihlah, sama ada untuk membayar dulu atau membayar kemudian. Tetapi sekiranya kita membayar dahulu, kejayaan di kemudian hari akan lebih manis dan bererti.

Orang mukmin sentiasa rela bersusah payah untuk mencintai Allah. Hidupnya terlalu sibuk untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Lepas satu kebaikan, satu lagi kebaikanyang dibuat tanpa letih dan jemu.

Allah berfirman yang bermaksud:
"Maka apabila kamu telah selesai ( daripada sesuatu urusan), kerjalah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." [Surah al-Sharh 94:7]



Sunday, 24 March 2019

BILA ALLAH KIRIMKAN MUSIBAH



Dalam musibah itu terdapat empat seni

* Mencari pahala dari Allah

* Berkawan dengan kesabaran

* Berzikir dengan baik

* Menunggu kelembutan dari Allah

"Andai kata tidak ada musibah di dunia, tentu kita datang pada hari akhirat tanpa membawa pahala." [ulamak salaf]

Sufiyan al-Thauri bertanya kepada Rabiatul Adawiyah:
"Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah s.w.t. untuk menyembuhkan kamu?"
Wanita sufi itu menjawab.
"Kenapa aku perlu bersungut sedangkan ia adalah hadiah Allah s.w.t. untukku. Bukankah satu kesalahan jika kita tidak mahu menerima hadiah dari Tuhan?"

~Maha Suci Dia, yang mendekatkan hamba-hambanya yang lalai kepada-Nya melalui musibah. Kebahagiaan membuat kita tertidur sementara musibah membangunkan kita~


Monday, 11 March 2019

MALU DENGAN ALLAH



MENGAPA PERLU MALU PADA ALLAH?

Allah adalah Pencipta, manakala kita hanyalah hamba. Selayaknya hamba malu kepada Tuhannya.

Malu merupakan benteng dari daripada sebarang perbuatan terkutuk.

Allah sentiasa memerhati kerana Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Rasa malu boleh mengangkat darjat seorang muslim ke tahap ihsan iaitu beribadah seolah-olah Allah sedang melihat kita.


PUPUK SIFAT MALU KEPADA ALLAH.

Sentiasa ingat bahawa Allah itu khalik sedangkan kita hanya makhluk. Rasa kehambaan yang menebal ini pemacu kepada rasa malu dalam diri.

Sentiasa ingat mati dan akhirat. Individu yang berorientasi akhirat sebegini akan selalu malu untuk berbuat maksiat.

Turut merasa malu walau ketika bersendirian atau di tengah khalayak.

Mohon doa semoga Allah kurniakan kita rasa malu kepada-Nya.


Sunday, 10 March 2019

JAGA ALLAH, ALLAH PASTI JAGA KITA



Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Wahai budak! Sesungguhnya aku ingin mengajar kamu beberapa kalimah [ajaran agama]: Jagalah Allah, [nescaya] Dia akan jaga kamu. Jagalah Allah [nescaya]  kamu akan dapati Dia di hadapan kamu." (Riwayat al-Tirmizi)

Ini sebahagian daripada hadis yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada Ibn Abbas. Ketika itu Ibu Abbas masih kecil  dikatakan berusia 10 tahun. Pesanan ini disampaikan kepada beliau semasa beliau menunggang unta dengan Rasulullah dan berada di belakang Rasulullah.

Apabila Rsulullah berpesan supaya "jaga Allah" maka boleh disimpulkan dalam dua poin penting berikut:

1.  Jaga dan jauhi... Batasan dan larangan yang Allah tetapkan.

2.  Tunai dan laksana... Hak dan suruhan yang Allah tetapkan.

Hadis di atas datang dalam bentuk bersyarat. Untuk mendapat jagaan Allah, syaratnya kita perlu terlebih dahulu menjaga Allah. Ini kerana balasan bagi apa-apa saja perbuatan mengikut perbuatan itu sendiri.

Batasan ibarat tembok yang tidak boleh dilanggar. Jika boleh digambarkan dalam bentuk kata-kata atau menolong, inilah antara yang termasuk dalam kategori menjaga batasan yang Allah tetapkan:

*  Ini semua Allah tidak benarkan, jadi aku tak akan lakukan.

*  Ini semua haram, aku akan jauhkan diri daripadanya.

*  Aku tidak akan menandatangani kontrak yang memang sah ada riba ini.

*  Aku tidak akan melakukan demikian kerana itu semua hanya memudaratkan diri sendiri dan insan lain.

*  Aku tidak akan lalai dengan ajakan syaitan dan nafsu.



~ Api yang panas tidak mampu membakar Nabi Ibrahim.

~ Lautan yang terbelah tidak menenggelamkan Nabi Musa.

~Pisau tidak melukakan leher Nabi Ismail, sebaliknya digantikan dengan kibas.

~ Ikan paus tidak memakan Nabi Yunus.

Mereka menjaga agama Allah, maka Allah menjaga mereka.



Monday, 4 March 2019

KAITAN USAHA DENGAN QADAK DAN QADAR



Bertitik tolak daripada ketetapan qadak dan qadar Allah swt, terdapat manusia yang mempersoalkan  mengapa berlaku perkara yang buruk dalam hidup seseorang? Mereka menyangka orang yang miskin itu memang ditakdirkan oleh Alla swt sebagai tidak bernasib baik.

Kefahaman begini hendaklah dibetulkan kerana boleh merosakkan akidah manusia. Hakikatnya, segala kejadian yang ditetapkan Allah swt itu ada hikmah disebaliknya. Antara hikmah tersebut ialah:

1.  Bernasib baik dengan tujuan untuk menguji manusia itu sendiri.

2.  Bernasib susah adalah tujuan untuk menguji sejauh manakah dia dapat bersabar dalam ujian yang berlaku ke atasnya.


Uthman bin Hunaif menceritakan kisah seorang lelaki buta yang datang bertemu Rasulullah saw, katanya: "Wahai Rasulullah, tolonglah berdoa untukku agar Dia memberi keafiatan untukku [dikembalikan mataku ini]."

Baginda menjawab: "Kalau engkau mahu, aku boleh doakan [agar kamu disembuhkan] Dan sekiranya engkau mahu, engkau terus bersabar, maka [sabar] adalah lebih baik bagimu."

Ujar lelaki itu lagi: "Doakanlah ia."  

Lalu Rasulullah saw supaya berwuduk dan menyempurnakan wuduknya [kemudian kerjakanlah solat sunat dua rakaat]. Setetrusnya berdoa dengan doa ini. "Wahai Tuhanku! Aku memohon kepadamu dan bertawajuh kepada-Mu dengan berkat Nabi-Mu saw. Aku menghadap kepada Tuhanku dengan berkatmu, agar ditunaikan hajatku [dikembalikan penglihatanku]. Wahai Allah, terimalah syafaatnya untukku."

Kemudian lelaki itu kembali ke rumah dalam keadaan penglihatannya sudah pulih seperti biasa. (Riwayat al-Tirmizi)

Allah mentakdirkan sesuatu ujian menimpa hamba-Nya kerana Dia ingin memberikan ganjaran dalam bentuk pahala seperti yang dijanjikan oleh Nabi saw dalam hadis di atas. Selain itu ujian yang menimpa juga adalah untuk menghapuskan dosa.

Dalam Islam tiada konsep sial, melainkan kejadian buruk itu berpunca daripada tindakan manusia itu sendiri. Manusia yang berusaha dengan mengambil kira ketetapan Allah mengikut kanun sebab dan akibat, In shaa Allah akan berhasil mencapai apa-apa yang dihajatinya.

Sebagai contoh, seorang pelajar yang gigih berusaha mengikut rentak belajar yang sebenar, In shaa Allah akan berjaya dalam peperiksaannya. Seseorang yang bertungkus lumus dan tabah mengusahakan perniagaan, In shaa Allah akan menemui kejayaan.

~sumber majalah solusi

Wednesday, 23 January 2019

MENCARI HIBURAN MENCARI KETENANGAN...



Menyebut tentang kehamilan, surah Maryam antara surah yang dekat dengan ibu mengandung. Kita akan berjumpa dua cerita berkaitan dengan perkara ini pada awal-awal surah. Pertama, tentang Nabi Zakaria yang direzekikan zuriat ketika usia renta, ditambah lagi dengan isterinya yang mandul.

Kisah kedua, tentang Maryam yang melahirkan anak tanpa bapa. Kedua-dua kisah pelik tapi benar ini sungguh pun kelihatan memungkinkan putus asa, juga menyebabkan kecaman orang, tetapi inilah yang dikatakan hiburan dalam kehidupan.

Sesuatu yang menjemput tenang itulah hiburan. Nabi Zakaria, sekalipun zuriat yang dinantikan lambat kehadirannya, tetapi harapannya kepada Allah tidak pernah padam. Lihat doa Nabi Zakaria yang dirakamkan dalam Al-Quran: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah putih dipenuhi uban dan aku tidak pernah berasa hampa untuk berdoa kepada-Mu...Oleh itu, kurniakanlahaku dari sisi -Mu seorang putera." [Surah Maryam 19; 4-5]

Sekalipun difikirkan dengan akal manusia, mustahil baginda boleh mempunyai anak sendiri atas faktor usia. Namun harapannya tidak pernah padam. Keyakinannya kepada Allah sepenuh jiwa. Bahkan lebih kerap baginda berdoa, semakin dekat terasa dengan Tuhan. Sehingga akhirnya dikhabarkan berita gembira oleh Allah, baginda bakal menimang cahaya mata. Sungguh, yang menggembirakan itu bukan sekadar doa yang terkabul tetapi kemanisan saat berdoa.!

Mengenangkan setiap satu peristiwa yang berlaku dalam kehidupan, hakikatnya tidak lari daripada hiburan. Sama ada berbentuk sesuatu yang menggembirakan atau menyedihkan, menakutkan atau menerujakan. Satu persatu babak dalam kehidupan jika diteliti sebenarnya menjadi hiburan buat diri.

Andai menjadi insan teruji, carilah kasih sayang Tuhan pada 'kekerasan' takdir-Nya. Itu juga hiburan. Sesungguhnya tiada satu pun yang sia-sia...


Thursday, 13 December 2018

PELIHARA LIDAH

                        
                  

Dalam media sosial menyebarkan maklumat palsu dan mengadu domba serta menimbulkan fitnah yang dirancang amatlah mudah. Tetapi disebabkan dosa ini telah sebati dalam diri maka ia dianggap normal sehinggakan dirasai pelik jika ada orang yang tidak terlibat dalam dosa mengata, mencaci, membuli orang.

Manusia telah sampai pada tahap hilang rasa kesian, prihatin, empati dan simpati pada orang lain. Ini merupakan tanda-tanda sakit jiwa yang teruk yang dialami secara beramai-ramai dan dikongsi secara meluas setiap saat. Demi memburu gerakan viral antarabangsa maka berlumba-lumbalah manusia menaip komen paling pedas dan tajam sedunia. Ada satu hadis yang dikhaskan untuk para wanita yang memiliki penyakit jiwa yang teruk sehinggakan tidak pernah rasa puas hatinya jika belum mencarut sesuka hati dalam komen bengis mereka di media sosial.


Ditanyakan kepada Nabi s.a.w. : "Wahai Rasululllah, sesungguhnya si Fulanlah suka solat malam, puasa di siang hari, mengerjakan [berbagai kebaikan] dan bersedekah, tetapi dia suka mengganggu para jiran tetangganya dengan lisannya? Rasulullah bersabda: Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka. Mereka pun bertanya lagi: Sesungguhnya si Fulanlah [yang lain] mengerjakan [hanya] solat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun? Bersabda Rasulullah s.a.w. : Dia termasuk penghuni syurga". (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)


Wahai wanita, malangnya jika lidahmu menjadi sebab diharamkannya syurgamu! Penjarakanlah ia semoga Allah menolong kita daripada kejahatan diri sendiri...




   ~ Hentikan Trend Buka Aib Di Media Sosial!!~





Sunday, 25 February 2018

HARGAI...



Dengan ahli keluarga dan sahabat-sahabat, janganlah kita terlalu berkira. Kesilapan kecil janganlah diperbesarkan. Kebaikan mereka biasanya jauh melebihi kesilapan tanpa disengajakan. Sebaliknya sementara mereka masih ada, hargailah mereka. Bersyukurlah, kerana tidak semua orang yang dapat anugerah ini.

Maka bukti kita mensyukuri dan menghargai, sentiasalah berlapang dada dan bersedia memaafkan. Kita pun suka jika Allah memaafkan kita dan Allah suka orang yang pemaaf. Berkali-kali Allah mengulangi, mengingatkan kita akan sifat-Nya Yang Maha Pemaaf dalam al-Quran. Mengapa? Agar kita mencontohinya.

Hebat benarkah kita sehingga tidak mahu memaafkan kesalahan orang lain? Apakah kita tidak pernah buat salah? Sekali-sekali, malah seharusnya, setiap masa, kita perlu merenung ke dalam diri, agar kita mampu menghargai. Jangan pula menangisi apabila mereka sudah meninggalkan kita- pergi menyambut panggilan Ilahi.






Banyak sungguh anugerah Allah pada kita. Tidak terhitung. Namun mengapa masih ada yang mengeluh. Mengharap lebih daripada apa yang sedia ada. Menginginkan apa yang belum pasti. Seolah-olah dia akan bahagia apabila diperolehi sesuatu yang dia ingini.

Seharusnya dalam masa sedang berusaha mendapat apa yang diimpikan, berbahagialah dengan apa yang sekarang. Bersyukurlah kerana mungkin dengan cara itu kita mendapat apa yang diingini. Bukankah Allah telah berjanji akan menambah nikmat untuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur: "Sekiranya kamu bersyukur, nescaya Aku tambahkan untuk kamu...." [Surah Ibrahim 14:7]

Sebaliknya jika kita lupa mensyukuri apa yang kita ada, sampai bila-bila pun kita tidak akan tenang dan bahagia. Mengeluh dan membandingkan dengan apa yang ada pada orang ialah petanda hati tidak bahagia. Kita lupa bahawa setiap orang ada rezeki dan takdir masing-masing dalam perancangan agung Yang Maha Berkuasa dan Bijaksana.

Maka syukuri dan berbahagialah dengan apa yang sedang kita miliki. Jangan menggantungkan kebahagiaan pada apa yang belum pasti. Umpama mengejar pelangi; bakal hilang seiring dengan hangatnya sinaran matahari....





Wednesday, 14 February 2018

BERSYUKUR



Ramai orang berbuat amal kerana mengharap kurniaan yang akan datang dari Tuhan. Tetapi tidak ramai yang beramal kerana menghargai kurniaan yang telah diberikan Tuhan.


Ramai bersedekah, kerana mengharapkan balasan berlipat ganda. Tetapi tidak ramai bersedekah kerana menghargai rezeki harta benda yang telah dikurnia.


Ramai solat dhuha, kerana mengharapkan rezeki bertambah. Tetapi tidak ramai solat dhuha kerana mensyukuri segala nikmat yang telah diterima.


Ramai membaca al-Quran, kerana mengharap kehidupan bahagia. Tetap tidak ramai membaca al-Quran, tanda terima kasih pada Tuhan.


Ramai beramal untuk jadi kaya, untuk berjaya dalam pelajaran dan kerjaya, untuk mencapai cita-cita. tetapi tidak ramai beramal kerana mensyukuri nikmat kesihatan, nikmat memiliki keluarga, nikmat keamanan, nikmat kebahagiaan, dan berbagai lagi nikmat yang tidak dapat dihitung.

Kenapa begitu? Sedangkan Allah telah berfirman yang bermaksud: "Sekiranya kamu bersyukur, nescaya aku akan tambahkan lagi ke atasmu..."


Bagaimana mungkin Tuhan akan terus memberikan lagi kurnia-Nya kepada kita, sedangkan yang telah diberikan sebelum ini pun kita belum mensyukurinya?

Sebelum minta apa-apa lagi dari Tuhan, muhasabah dulu segala yang telah diberikan sebelum ini. Apakah kita sudah berterima kasih kepada-Nya dengan selayaknya.

Semoga Allah memelihara kita dalam mencari keredhaan-Nya.


`AbuHanifah

Saat kita dewasa, kita akan semakin belajar untuk mati rasa pada banyak hal. Hingga satu waktu, hal-hal yang dulu menyakiti kita dengan muda...