Showing posts with label Renungan.... Show all posts
Showing posts with label Renungan.... Show all posts

Saturday, 9 May 2020

MENANGISLAH JIKA ITU MENENANGKAN



Perkara hati adalah perkara yang tak mudah diprediksi. Seorang lelaki gagah pun bisa saja tiba-tiba menangis karena kehilangan. Seorang lelaki parlente pun bisa saja berkali-kali menangis karena ditinggalkan. Rupanya hati tak pernah bergantung pada rupa, predikat, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan. Hati adalah alam sendiri yang bisa bahagia dan sedih semaunya.
Menangislah dan jangan berhenti jika itu menenangkanmu meski hanya untuk sesaat. Menangislah dan resapi jika itu mengurangi dukamu meski tak lama. Tangisan bukan tanda kelemahan. Menangis adalah tanda hatimu masih hidup meskipun redup, tanda masih bisa berharap dan membuat pilihan dalam hidup. Bersyukurlah karena rindu nan sendu itu berhasil membuatmu menangis, bahkan berkali-kali. Hatimu lembut. Jangan salah, yang menangis hari ini belum tentu akan terus hidup dalam sedu-sedan di masa depan.
Jika kamu adalah orang yang kehilangan, ditinggalkan, atau telah menyia-nyiakan kesempatan atas sebongkah hati manusia, sekalipun susah tapi bersyukurlah saja. Bersyukur karena kamu hanya kehilangan manusia, bukan kehilangan Allah. Bersyukur karena kamu hanya ditinggalkan manusia, bukan ditinggalkan Allah. Bersyukur karena Allah tak pernah berpaling dan selalu memberi kesempatan yang sangat luas sekalipun kamu terlalu sering menyia-nyiakan-Nya.
Jangan kamu tolak rasa sedih dan sendu itu. Kamu bisa jadikan itu energi untuk melawan balik. Bukan balas dendam, tapi untuk melanjutkan hidup dengan versi terbaik dari dirimu. Pengalaman pahitnya kehilangan adalah pengalaman yang berharga, yang mengajarkan kamu untuk menjadi pribadi lebih baik yang menghargai sesuatu dan kesempatan yang kamu punya.
Well, kehilangan memang berat. Tapi kita adalah orang-orang yang percaya. Yang percaya bahwa takdir itu ada, yang percaya bahwa jodoh itu ada. Saat kehilangan terasa begitu berat, bayangkan saja bahwa kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menyerahkan hati sepenuhnya untukmu. Jangan jadikan dia yang di masa depan itu menjadi sia-sia untuk yang kesekian kalinya, karena kamu berkewajiban memberikan hatimu padanya tanpa ada luka segores pun.
Barangkali kamu hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Nikmati saja jika memang harus menangis. Al-Qur’an adalah obat dan penawar, cobalah sembuhkan hatimu dengan membacanya perlahan. Aku tak tahu kapan kamu akan pulih, tapi setidaknya percayalah bahwa Al-Qur’an adalah penawar hati yang luka. Tangismu itu akan lebih bernilai jika diiringi bacaan Al-Qur’an meskipun sambil terbata.
Jangan berhenti memikirkan masa depan. Masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak akan hilang, tapi kamu tak lagi hidup di situ. Dimensi tempatmu hidup adalah hari ini yang terus berjalan maju. Akan banyak sekali tempat yang kamu singgahi dan orang yang kamu temukan. Aku adalah orang yang sangat percaya, bahwa kelak kamu akan menemukan seseorang yang menjadi tempat pulangmu, yang akan membuatmu bersyukur memilikinya, dan yang akan menghapus penyesalanmu yang telah lalu.
Allah tak pernah meninggalkanmu, Sahabatku.“Do not lose hope. Nor be sad.”(Surah Ali Imran: 139)
— Taufik Aulia

Sunday, 26 April 2020

RENUNGAN



Setiap umat Islam
adalah dituntut untuk
mengenali asal kejadian
dirinya iaitu dari mana datangnya
dan ke mana akan kembalinya.
Manusia khususnya
manusia yang beriman
kepada Allah adalah yakin
dan percaya bahawa mereka
adalah datang daripada Allah
dan akan kembali kepada-Nya.
Sewaktu berada di alam roh,
manusia telah berikrar dan berjanji serta
mengakui bahawa Allah itu adalah Tuhannya
dan Allah juga yang Maha Pencipta dan Maha
Berkuasa di atas segala makhluk ciptaan-Nya.
Firman Allah melalui
Surah al-A’raaf ayat 172,
Allah menegaskan tentang
asal kejadian manusia dan janji
manusia kepada Allah seperti kalam-Nya:
“Dan ketika Tuhanmu
menjadikan keturunan anak Adam
daripada tulang punggung mereka.
Dia meyaksikan dengan diri mereka sendiri.
Allah berfirman:
Bukankah Aku Tuhan kamu?
Sahutnya Ya kami menjadi saksi
supaya kamu jangan mengatakan pada hari
kiamat sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini.”
Manusia sebelum dilahirkan
Ia belum terpisah dari Tuhan, sewaktu itu
Janji ikrarnya: Bahawa Tuhanku
Ialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
Tuhan yang Maha Pencipta, Dialah yang
mencipta sekalian alam, makhluk,
juga manusia
Inilah awal dan asal tauhid dan iman
Inilah awal dan asal makrifat yang hakiki
“Keindahan Manusia”
mengungkapkan maksud dan
rahsia keindahan manusia sebagai
sebaik-baik dan sesempurna kejadian
sebagaimana menepati maksud al-Qur’an
dalam Surah at-Tin ayat 4
yang telah dijelaskan sebelum ini.
Keindahan manusia
Bukan kerana wajahnya
atau kecantikannya
Keindahan manusia
Bukan kerana hartanya
atau pangkatnya
Keindahan manusia
Bukan kerana bangsa
atau keturunannya
Keindahan manusia
Kerana keindahan cinta
rabbani dalam dirinya
Keindahan manusia
Adalah kerana keimanan
dan amalan solehnya
Keindahan manusia
Kerana keindahan akhlak dan adabnya
Inilah rahsia keindahan manusia
“Dan berikanlah
berita gembira kepada
orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang
apabila ditimpa musibah
mereka mengucapkan:
‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’
Mereka itulah yang mendapat
keberkahan yang sempurna dan
rahmat dari Rabb mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Al-Baqarah: 155-157)
“Tiada seorang muslim
yang ditimpa musibah lalu ia
mengatakan apa yang diperintahkan
Allah (yaitu): ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah)
yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang
lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan
kepadanya yang lebih baik darinya.”
(HR. Muslim no. 918)
‘Ya Allah,
berilah kami pahala
pada musibah yang menimpa
kami dan berilah ganti bagi
kami yang lebih baik darinya.’
Allah SWT berfirman: “Karena itu,
ingatlah kamu kepadaKu, niscaya
Aku ingat (pula) kepadamu (dengan
memberikan rahmat dan pengampunan).
Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan
ingkar (pada nikmatKu).” (Al-Baqarah, 2:152)
“Orang-orang
yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan
berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”
(Qs. ar-Ra’du: 28).
“dan sesungguhnya mengingat Allah
adalah Lebih Besar (Keutamaannya
dari ibadat-ibadat yang Lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Ankabut : 45)
Subhanallah walhamdulillah
wala ilaha illallah wallahu akbar

Saturday, 13 July 2019

SABAR KERENAH MANUSIA



KITA PUN ADA KEBURUKAN TERSENDIRI

Kita tidak perlu mengharapkan manusia begitu sempurna di mata kita. Hakikatnya kita sendiri bukanlah manusia yang sempurna. Diri kita ini masih banyak kelemahan, keburukan dan kesilapan, walaupun kita tentunya dalam usaha untuk memperbaikinya.

Menyedari hakikat ini, kita akan lebih berlapang dada dengan keburukan dan keletah manusia lain yang kadangkala boleh membuat darah kita mendidih.


BIJAK

Manusia ini makhluk yang unik. Bahkan tiada manusia yang sama sikapnya dengan manusia lain. Apabila berdepan dengan pelbagai sikap manusia ini, kita perlu bijak memahami dan bertindak.

Setiap individu dan situasi yang berbeza mungkin memerlukan tindakan yang berbeza daripada kita. Oleh sebab itu, ia menguji kebijaksanaan kita.


UBAT DENGAN ZIKIR

Untuk kesekian kalinya, kita boleh biasakan diri berzikir menyebut, "tidak mengapa." Zikir ini melepaskan beban rasa di hati kita setiap kali rasa tertekan dengan perangai manusia.

Rasa tidak puas hati, marah, tidak sabar dan sebagainya boleh diredakan. Kadangkala zikir menjadi jalan keluar kita daripada tidak terlalu memikirkan pelbagai perangai manusia lain yang menyakiti hati kita. Buat apa kita terlalu memikirkannya?

Dengan itu, kita sedang bertindak bijak dengan mengabaikan perkara yang tidak penting dalam hidup.



Thursday, 11 July 2019

SANTAPAN DARI LANGIT



Al-Quran itu turun dari Loh Mahfuz ke langit dunia. Al-Quran seterusnya diturunkan secara berperingkat kepada Rasulullah s.a.w. Al-Quran itu jugalah yang disampaikan oleh Baginda kepada para sahabat, seterusnya diwariskan kepada kita semua. Jauh sekali perjalanan al-Quran.

Asalnya dari langit, disambut Nabi terakhir, kemudian menjadi satu-satunya Kitab di dunia yang paling autentik.
Dipendekkan cerita, kini Al-Quran itu berada di tangan kita. Al-Quran yang isi kandungannya sama dengan dahulu. Tidak berubah walau sedikit.

Al-Quran itu ibarat santapan dari langit. Jika kita memandang Al-Quran umpama santapan, maka kita tidak jemuingin membacanya setiap hari. Bahkan berkali-kali sehari. Ini kerana kita faham ia keperluan asasi. Ia makanan ruji bagi hati.


Menariknya santapan dari syurga ini, ia sudah sedia boleh digunakan. Ia bukan bahan mentah yang perlu diolah. Bahkan ada pula perantara (Rasulullah) yang menjelaskan maksud isi kandungannya.

Ironi sekali, Al-Quran mampu mengikat hati Rasulullah, para sahabat dan orang soleh. Namun belum tentu mampu memikat hati kita.

Sedangkan itu Al-Quran yang sama. Betapa Al-Quran itu memang sudah hebat dan sebuah mukjizat, namun hati kita pula bagaimana? Apa reaksi dan aksi hati kita tatkala berinteraksi dengan Al-Quran?


Ingin mendekat atau menjauh?
Allah menjelaskan yang bermaksud: "Kemudian Kami wariskan Al-Quran itu kepada orang yang Kami pilih dalam kalangan hamba-hamba Kami. Antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri dan ada yang pertengahan, serta ada pula yang mendahului dalam melakukan kebaikan dengan izin Allah. Itu adalah kurniaan yang besar daripada Allah." [Surah Fatir 35:32]

Ya Al-Quran itu jugalah yang mampu menghidupkan hati yang mati. Namun ada juga hati yang tidak mampu dihidupkan oleh Al-Quran.

Kenapa?
Ini soal kesediaan hati kita menerima AlQuran. Jadi, jangan biar hati berselaput dengan apa-apa penutup sehingga menjadi penghalang Al-Quran berfungsi di hati. Hati kita perlu terlebih dahulu menerima sepenuh hati, tanpa sebarang tapi atau nanti.

~Husna Hassan


Saturday, 11 May 2019

TANAH DAN KEHIDUPAN



Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud "Sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Adam daripada segumpal tanah yang diambil dari muka bumi. Kemudian datanglah sekalian keturunan Nabi Adam yang sesuai dengan permukaan bumi tersebut. Diantara mereka ada yang berkulit merah, putih , hitam dan juga antara ketiga-tiga warna tersebut. Begitu juga ada yang ramah, sedih, keji dan baik." [Riwayat Abu Dawud].


Terdapat rahsia yang tersirat daripada penciptaan manusia yang pelbagai warna dan sifat kerana kepelbagaian penciptaan Adam dari pelbagai jenis tanah dunia. Maka dengan itu, lahirlah manusia yang mempunyai perbezaan rupa kulit, sifat dan tabiat semula jadi, dan pelbagai lagi sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w.


Begitulah perumpamaan yang Nabi Muhammad s.a.w. bawakan kepada kita. Semuanya adalah keturunan daripada bapa segala manusia iaitu Nabi Adam.

Maka seharusnya kita perlu ingat, kita perlu hidup secara harmoni di dunia ini bersama dengan saudara kita. Hanya yang membezakan kita adalah:

1.   Islam....Alangkah indahnya jika Islam menjadi budaya hidup.

2.   Iman....Alangkah indahnya jika taqwa sebagai perisai kita dalam segenap penjuru.


Oleh itu, jalan kita di dunia, jangan suka mendabik dada. Jangan anggap diri tinggi dan mulia. Hakikatnya kita semua serupa disisi-Nya. Hari perhitungan kelak, Allah akan menghisab segala amal kebaikan kita.


Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa paras kamu mahupun harta kepunyaan kamu, namun Allah melihat hati atau amalan kamu." [Riwayat Muslim]


Monday, 15 April 2019

BICARA SAHABAT



Kita bukan penduduk bumi,
Kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi,
tapi kita berasal dari syurga.

Maka carilah bekal untuk kembali ke
rumah kita,
kembali ke kampung halaman yang
lama kita tinggalkan.

Dunia ini bukan rumah kita,
maka jangan alpa dengan
kesenangan dunia.
Kita hanya penjalan kaki dalam
perjalanan kembali ke rumah kita.

Tak rindukah pada kampung anda?

Bukankah mereka
yang sedang dalam perjalanan
pulang selalu mengingat rumahnya
dan mereka mencari buah tangan
untuk kekasih hatinya
yang menunggu di rumah...

Lantas, apa yang kita bawa untuk
penghuni rumah kita?

Rabb yang mulia
Dia hanya meminta amal soleh dan
keimanan, taat pada-Nya serta rasa
rindu pada-Nya
Yang menanti di rumah.


Begitu beratkah memenuhi
perintah-Nya?

Kita tidak berasal dari bumi,
kampung asal kita adalah di syurga.

Kenapa kita lupa?

Rumah kita jauh lebih indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan
dihuni oleh orang-orang yang
mencintai kita.
Ada isteri solehah.
Ada suami soleh
serta tetangga dan kerabat yang
menyejukkan hati.
Mereka rindu kehadiran kita, setiap
saat menatap menanti kedatangan
kita.
mereka menanti khabar bauk
dari Malaikat Izrail

Bila keluarga mereka akan pulang?

Ikutilah peta (al-Quran) yang
Allah titipkan sebagai pedoman
perjalanan.
Jangan sampai salah arah dan
berbelok ke rumahnya iblis
laknatullah iaitu neraka.

Kita bukan penduduk bumi,
Kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan.
Moga perjalanan kita ke sana
selamat dan dirahmati.

Ingat...
Ini bukan rumah kita



Monday, 18 March 2019

MELIHAT DIRI SENDIRI



Apabila menyebut tentang "membawang" atau "mendaging" kita bukanlah ingin melihat sifat negatif yang ada pada orang lain. Apabila Allah menggunakan gantinama "kamu" pada ayat, "Adakah seseorang daripada kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati?", itu tidak bermakna kita juga perlu melafazkan ganti nama yang sama [kami] apabila menyebut tentang perbuatan membawang.

Sifat" membawang" atau "mendaging" ini perlu dilihat sama ada ia telah meresap ke dalam diri kita sendiri atau pun tidak. Jika sifat ini sudah menular dalam diri, maka hati perlu dibersihkan melalui taubat dan melakukan banyak kebaikan dan ketaatan.

Nabi s.a.w. pernah berpesan:"Setiap anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik pelaku kesalahan yang banyak adalah mereka yang banyak bertaubat atas kesalahannya." [Riwayat al-Tirmizi dan Ibn Majah]


Sayangi Diri
Sibukkan diri melihat kelemahan dan keburukan sendiri, bukannya sibuk menjaga tepi kain orang.
Rasailah bahawa diri kita ini terdapat kesilapan dan aib yang banyak.

Tingkatkan Empati
Meletakkan diri kita pada tempat orang yang diumpat. Lalu kita tanyakan pada diri sendiri: "Adakah aku redha dengan umpatan orang terhadap diriku?"


Perisai Diam
Bercakap hanya perlu. kadang kala diam itu lebih indah. Nabi s.a.w. pernah berpesan pada kita: "Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia mengatakan apa-apa yang baik atau sekadar berdiam diri." [Muttafaq'alaih]


Jaga Aib
Menjaga dan menutup aib orang lain dengan tidak menyibukkan diri mengintip aib dan keburukan orang.



Elak Allah Murka
Ingatlah, mengumpat merupakan perbuatan yang boleh mengundang
kemurkaan Allah.


Aktifkan Dirimu
Meluangkan waktu lapang dengan aktiviti-aktiviti yang berfaedah dan boleh
memberikan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain
demi mendekatkan diri kita dengan Allah.





TANDA KEBAHAGIAAN

Kebaikan yang dilakukan seolah-olah tidak berada di hadapan mata.
Ini bermaksud kebaikan yang dilakukan tidak diperbesarkan.

Dosa dan keburukan yang dilakukan sering berada di hadapan mata.
Ini bermaksud ia sering dilihat dan dikoreksi supaya dapat diperbaiki dan dihindari.

[Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Miftah Dar al-Sa'adah]



Tuesday, 29 January 2019

MENANGISLAH SUPAYA TIDAK MENANGIS...



Hidup dimulakan dengan tangisan, dicelah dengan tangisan dan diakhiri oleh tangisan. Manusia dan tangisan tidak boleh dipisahkan. Sejak detik kelahiran lagi, seorang bayi telah menangis.

Apakah ertinya tangisan bayi?

Pakar perubatan berkata ia sebagai cara jantung mengepam oksigen yang lebih banyak.

Hakikatnya itu sunnatullah kepada kelangsungan hidup.

Ahli-ahli sufi pula mentafsirkan tangisan pertama itu tanda protes manusia kepada godaan syaitan yang mula menyesatkannya.

Nikmat atau hadiah buat seorang ibu selepas bertarung nyawa melahirkan. Betapa gembiranya seorang ibu apabila mendengar tangisan tersebut.



Oleh sebab tangisan itu fitrah dan tidak dapat dielak dalam kehidupan, maka Islam mengatur fitrah itu dengan syariat. Agar dengan tangisan itu, manusia mendapat pahala dan kebaikan, serta terhindar daripada dosa dan kejahatan. Jika kena pada sebab serta ketika, tangisan akan menjana kebaikan yang melimpah.

Ketahuilah bahawa menangis itu juga adalah ibadah. Tidak perlu ditanya tentang orang yang tidak pernah menangis. Namun yang mungkin perlu kita tanya pada diri, pernahkah aku merasai pengalaman seperti berikut?

Menangis kerana takut kepada Allah.
Menangis kerana rindu dan cinta kepada Allah.
Menangis kerana rindu kepada Rasulullah.
Menangis kerana belas kasihan dan rasa kasihan pada jenazah.
Menangis kerana khuatir dan simpati akan nasib umat Islam.
Menangis kerana membaca atau mendengar al-Quran.
Menangis kerana berdoa kepada Allah.


Ulama sufi mengatakan: "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih Allah sukai daripada satu kebaikan yang menimbulkan rasa takabbur."

Ibn 'Ataillah pernah berwasiat: "Tangisan seorang pendosa lebih Allah cintai daripada tasbih para wali."


Tuesday, 11 December 2018

CETUSAN RASA



Takdir yang kita jalani sekarang, ibarat sedang meniti tepi jurang. Terus menjalaninya begitu mengerikan, mahu putar balik sama saja. Mahu lepas, ertinya kita harus lompat dan terjun ke bawah. Semua pilihan yang ada, nyaris kita tidak sanggup menanggung konsekuensinya. Sampai di titik kita hampir menyerah, saat kita membuka diri dan hati, saat kita melihat seksama. Ternyata kita tidak sendiri meniti jalan ini.



Semakin dekat semakin sulit untuk kita melihat, tapi semakin mudah hati kita untuk merasakan. Seperti itulah pencarian mu selama ini bukan?
Matamu menuju ke segala penjuru arah, terpesona pada paras`wajah dan apa-apa yang terlihat di matamu, terdengar di telingamu. Sementara yang benar-benar mengenalmu, ada untukmu, banyak berdoa untukmu, yang selama ini santun kepadamu adalah ia yang dekat denganmu. Hatimu tidak pernah kamu bawa ketika kamu mencari.



Beberapa dari kita terpaksa belajar di tengah perjalanan. Dan itu lebih sulit, daripada kita belajar sebagai persiapan di awal. Di hidup ini, ada banyak hal yang sebenarnya bisa dipersiapkan dengan lebih baik, lebih matang, sehingga di perjalanan nanti kita bisa lebih siap dengan segala tantangannya. Apakah kita baru mahu belajar berenang ketika sudah di tengah lautan. Begitu juga dengan pilihan -pilihan penting yang akan kita ambil...

~masgun


Saturday, 3 November 2018

ENGKAU REDHA KEPADA PERKARA YANG DICINTAI



Cinta dan redha. Dua sifat yang perlu ada untuk menjaga hubungan. Dengan siapa? Sudah pastilah hubungan dengan Allah. Bukankah hubungan itu yang lebih penting? Cinta dan redha itu sentiasa bergandingan. Sesungguhnya, apabila seseorang cinta terhadap sesuatu pihak, maka ia akan redha terhadap apa jua yang ada dan dilakukan  oleh pihak yang dicintainya.

Bahasa mudahnya, ia memberi makna cinta datang terlebih dahulu, baru diikuti oleh rasa redha. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulum al-Din mengungkapkan, "Apabila tetap teguhlah gambaran cinta terhadap Allah s.w.t. serta tenggelam dalam keadaan tidak sudah-sudah mengingati-Nya, maka cinta sedemikian pastilah akan menerbitkan sifat redha terhadap apa jua perbuatan pihak yang dicintai (Allah), iaitu bagaikan sakit menjadi tidak terasa, atau kalaupun terasa sakitnya, tapi redha dengan rasa sakit tersebut."

Justeru, dua sifat mahmudah ini menjadi bertaut dalam penghayatan seseorang hamba dalam hubungannya dengan Allah. Sepertimana yang diungkapkan oleh seorang sufi, 'Umar b. 'Uthma al-Makki, "Ketahuilah bahawa cinta adalah termasuk dalam redha; maka, tidak ada cinta tanpa redha dan begitu juga, tidak ada redha tanpa cinta. Ini kerana engkau cinta hanya kepada perkara yang engkau redha; demikian pula engkau redha hanya terhadap perkara yang engkau cinta."


Maka itu, hal ini juga bermakna bahawa cinta dan redha merupakan rangkaian sifat yang tidak boleh dipisahkan. Ia terwujud secara serentak dalam penghayatan seseorang manusia, tanpa mengambil kira matlamat serta fokus ke arah mana cinta dan redha itu ditujukan.








ERTI CINTA


Para cendekiawan mengatakan bahawa cinta itu ialah suatu kemahuan terhadap perkara yang dilihat atau disangka oleh seseorang sebagai ada kebaikan. Di tengah-tengah kehidupan manusia, cinta itu ada beberapa jenis:


Cinta kepada kelazatan seperti cinta seorang lelaki terhadap perempuan ataupun cinta seseorang terhadap makanan.


Cinta terhadap manfaat yang akan diperoleh seperti cinta seseorang terhadap sesuatu yang boleh mendatangkan faedah kepada dirinya.


Cinta untuk memperoleh kelebihan seperti cinta satu sama lain dalam kalangan orang yang beriman.


~sumber majalah al-islam.

Wednesday, 18 April 2018

ORANG KAYA YANG BODOH...

Orang kaya yang tidak berilmu tetap akan menjadi bodoh. Walau sekaya manapun mereka, jauh lebih kaya daripada kita, biasanya kita masih dapat kesan akan kebodohannya.

Ada ilmu yang tinggi tidak membawa kita kepada menjadi kaya raya. Ada profesor hanya pandu kereta Ford yang buruk. Ada peniaga yang tidak lulus SPM tetapi rumah sperti mahligai dan selalu ke luar negara. Namun dari gelagatnya, kita boleh tahu dia orang yang macam mana.

Orang yang berilmu dapat lihat dari perbuatan dan kata-katanya. Bukan dari jenis rumah dan jenis kereta yang digunanya. Orang yang berilmu pandai membawa diri dalam masyarakat. Ia tidak semestinya profesor.

Kepada saya jika seorang profesor tidak pandai membawa diri dan menyesuaikan diri dalam masyarakat dan keadaan, dia sebenarnya bodoh. Kerana puncak ilmu ialah mensejahterakan orang ramai. Ini pendapat saya.

Sebab itu akhirnya orang yang berbudi pekerti mulia dianggap berilmu kerana ilmu menjadikan berbudi pekerti mulia.

Ramai orang matlamat hidupnya adalah untuk kaya, tidak ramai matlamat hidup itu adalah untuk menjadi orang yang berilmu.

Dan apabila lahir masyarakat yang kaya tetapi tidak berilmu......padahnya masyarakat juga akan merasainya......

~ sukiman ishak.

Tuesday, 17 April 2018

MENGAPA MANUSIA MELAKUKAN DOSA?



Mengapa manusia melakukan dosa?
Padahal dosa itu meresahkan hatinya.
Para ulama memberikan tiga alasan yang utama:

1. Tidak yakin kepada Allah.
2. Tidak yakin akan adanya hari akhirat.
3. Terlalu cinta kepada diri, lalu mengabaikan orang lain.

Soalnya mengapa orang Islam pun masih tegar melakukan dosa?

Ya, jawapannya kerana kita hanya percaya, tetapi tidak yakin kepada Allah dan hari akhirat. Jika ditanya, apa bezanya antara percaya dengan yakin? Terlalu jauh bezanya.

Percaya itu di akal. Ia dimiliki oleh pemikiran hasil belajar. Manakala yakin itu di hati. Ia dimiliki melalui jalan tarbiah dan mujahadah.




Cara mengecilkan ujian adalah dengan membesarkan iman. Dengan iman kita percaya bahawa apa pun yang ditakdirkan Allah berlaku, pasti ada kebaikannya.

Sangka baik dalam hati akan memperbaiki apa yang dilihat buruk oleh mata dan difikirkan negatif oleh akal.

Percayalah hati kita umpama bumi, kadang kering kontang panasnya membahang.

Kadang sejuk dingin apabila hujan menyiram. Selang seli ini terus datang dan pergi, berulang-ulang.

Alangkah dungunya bagi yang mengharap hujan memanjang tanpa ada panas membahang. Juga yang mengharap hanya ada panas membahang tanpa hujan bertandang.

Inilah dunia. Inilah jiwa. Selang seli rasa umpama pengiliran cuaca. Tidak ada yang kekal, semuanya sementara.

Segala yang sementara hadapilah dengan sederhana. Pada sukar ada sabar. Apabila sabar, muncul syukur. Pada syukur itulah bahagia. Bahagia di hati.

Kata orang arif itulah, permulaan syurga.


Saturday, 24 March 2018

RENUNGAN IMAN



"Saya sedar siapa diri saya. Tak berapa soleh! Amal pun tak seberapa. Oleh itu saya pastikan anak saya adalah anak soleh. Mudah-Mudahan dia akan bantu saya selepas saya mati kelak kerana saya selalu dengar para ustaz kata doa anak soleh berguna untuk kita."

Ini antara dialog yang biasa kita dengar daripada seorang ayah atau ibu yang sedang meningkat dewasa. Harapan mereka kepada anak soleh yang bakal menjadi aset barzakh atau talian hayat di akhirat sangat tinggi. Pun begitu, ibu bapa sebegini nampak agak mementingkan diri sendiri kerana mereka hanya melihat sehala ke bawah dan lupa untuk melihat ke atas atau ke belakang.

Apa maksud lupa melihat ke atas atau ke belakang? 

"Kasihan ibu bapa awak kerana mereka pasti mengharapkan doa anak soleh daripada awak. Jika awak hanya berpada melihat kepada anak awak sebagai insan soleh, adakah awak bersikap adil dengan ibu bapa awak dahulu? Siapa pula yang akan doakan mereka jika awak belum mencapai tahap anak soleh?"



JADI SOLEH TERLEBIH DAHULU

Sepatutnya rantai perhubungan dalam sebuah keluarga atau masyarakat dijaga secara adil. Gelung rantai yang dipegang perlu kukuh sebelum dan selepas. Mana mungkin gelung rantai yang kita pegang berfungsi mengikat kemas sesuatu perkara jika gelung sebelumnya reput berkarat?

Samalah juga, jika gelung mata rantai kita reput, gelung rantai selepas kita akan hilang tempat berpaut. Akhirnya ia akan terburai jatuh tak mampu lagi bertahan. Jika kita mahu doa anak yang soleh, kita wajib terlebih dahulu jadi insan yang soleh.

Soleh sebagaimana solehnya ayah kita dan seterusnya legasi soleh kita dan ayah kita dipanjangkan pula oleh anak cucu cicit kita. Jika berasa diri kurang soleh atau agak malas menjadi soleh, percayalah! Selagi nyawa dikandung badan, kita boleh sahaja berubah menjadi insan soleh.

Biasa kita dengar kelebihan atau faedah anak yang soleh sebagai hadis yang  sangat popular di bibir ramai ibu bapa, Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariah (yang sentiasa berjalan pahalanya),  ilmu yang diambil manfaat daripadanya atau anak soleh yang sentiasa mendoakannya." [Riwayat Muslim]

Hadis di atas dikukuhkan pula dengan sebuah hadis lain yang menyebabkan si ibu bapa terkecur mulut mahukan anak yang soleh. Sabda Rasulullah s.a.w. :
"Sesungguhnya seorang lelaki (dan wanita) akan diangkat darjatnya dalam syurga. (Berikutan itu) dia akan bertanya Allah, "Bagaimana mungkin aku dapat darjat sebegini?" Lalu dikatakan padanya, "Ini kerana (berkat)  doa pengampunan untukmu oleh anakmu (yang soleh)." [Riwayat Ibn Majah]


BERKAT IBU BAPA SOLEH

Namun begitu, agak jarang kita fokus kelebihan ibu bapa soleh yang mampu mencurahkan limpahan rahmat Allah kepada anak cucu. Perhatikan firman Allah ini:
"Dan ( daripada keturunan nabi Ibrahim itu, lahir pula para nabi lain iaitu nabi ) : Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas; semuanya tergolong dalam kalangan orang yang soleh. [Surah al-An'am 6:85]

Ayat ini menyusun nama nabi Zakariyya terlebih dahulu sebelum nabi Yahya a.s. Apa signifikannya? Tidak lain, ia menunjukkan bahawa si ayah perlu terlebih dahulu bersifat soleh sebelum melahirkan anak yang soleh.


Legasi dan fenomena soleh ayah yang membawa kepada solehnya anak, berlaku secara konsisten dalam sejarah Islam. Para ulama yang menggegar dunia biasanya ber'ayah-ibu' kan orang soleh. Gelung rantai yang soleh antara generasi ayah dan anak cucu ini ditegaskan Allah dalam banyak firman Allah yang wajib kita perhatikan. Antaranya firman Allah:
"Dan orang beriman yang dituruti oleh zuriat keturunannya dengan keadaan beriman. Kami hubungkan (himpunkan) zuriat keturunannya itu dengan mereka [di dalam syurga]; dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amalan mereka; setiap seorang manusia terikat dengan amal yang dikerjakannya. [Surah al-Tur 52:21]


Pengekalan hubungan bahagia sebuah keluarga yang soleh turut menjadi doa makhluk pilihan Allah iaitu para pemikul arasyh Allah. Firman-Nya:
[ Para malaikat pemikul Arasyh berdoa lagi kepada orang beriman dengan berkata ] "Wahai Tuhan kami! Dan masukkanlah mereka ke dalam syurga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka; dan ( masukkanlah bersama mereka ) : orang yang soleh antara ibu bapa, isteri mereka, serta keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. [ Surah Ghafir 40 : 8 ]

Ingatlah! Pada satu masa kita memikul dua jawatan yang Allah amanahkan iaitu seorang anak dan ayah. Apabila ia menjadi amanah, maka kita wajub menunaikannya sebaik mungkin. Oleh itu, duhai ayah bonda! Didiklah diri menjadi insan soleh terlebih dahulu sebelum mengharapkan doa anak kita sebagai anak soleh....


~ sumber majalah solusi.

Tuesday, 6 March 2018

BERUNTUNGLAH ORANG YANG MENDAPATKAN NASIHAT



Di dalam al-Quran Allah s.w.t. berfirman "Dan tetaplah memberi peringatan kerana sesungguhnya ia bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." Allah s.w.t. sifatkan orang yang berguna untuk diberikan peringatan, yang mengambil peringatan adalah orang yang beriman.

Kalau kita check diri kita, kadang-kadang orang kasi nasihat tak lut, tak ada kesan, kita malas nak terima. Bermakna kita ada masalah iman sebab orang yang beriman pasti bermanfaat kepadanya akan peringatan dan nasihat.

Oleh kerana itu, Nabi s.a.w. mengatakan "Beruntunglah orang yang mendapatkan nasihat."
Beruntunglah orang yang mendapatkan  nasihat kata Nabi s.a.w. Akan tetapi, kalau kita mendapat nasihat, kita merasa rugi bahkan kita merasa lekeh, kita merasa kita diingatkan sehingga kita merasa hina. Bermakna masalahnya bukan masalah orang yang memberi nasihat itu, tapi masalahnya adalah iman kita. Masalahnya kita kena check iman kita.

Oleh kerana itu, kita lihat di dalam lipatan sejarah mereka Para Sahabat. Walaupun mereka itu Khalifah, Amirul Mukminin tetapi ketika mana dinasihati dan ditegur, diterima. Bayangkan pangkatnya itu Amirul Mukminin, pemimpin kepada kaum mukminin, punya besarnya pangkat dan kuasanya.

Saidina Umar al-Khattab r.a. tatkala ditegur oleh seorang perempuan ketika mana dia cuba untuk menetapkan akan mahar. Dia melihat antara perkara yang berlaku di zamannya adalah mahar itu menjadi beban kepada orang lelaki yang nak mengahwini kepada orang perempuan.

Maka diantara usahanya sebagai seorang ketua kerana mempermudahkan akan perkahwinan itu, akan menyelamatkan daripada berlakunya zina dan perbuatan keji. Oleh kerana itu, Saidina Umar Al-Khattab r.a. sebagai Amirul Mukminin, dia cuba untuk mempermudahkan dengan mengatakan, "Saya ingin untuk menetapkan akan mahar bagi seseorang perempuan yang dinikahi." Pada zaman pemerintahannya.

Dalam keadaan dia kumpulkan dan berikan pendapatnya, tiba-tiba bangun seorang perempuan tua mengatakan "Wahai Amirul Mukminin. Bukankah di dalam al-Quran Allah s.w.t. mengatakan mahar itu adalah haknya orang perempuan dan hanya orang perempuan yang berhak untuk menentukan berapa yang dia patut dapat sepertimana firman Allah s.w.t. Dibacakan firman Allah s.w.t.

Ketika akan mendengar seperti itu, apa Saidina Umar Al--Khattab r.a. kata? Kalaulah kita di zaman ini pasti kita akan mengatakan "Saya dimalukan". Kita akan cuba menegakkan benang yang basah. Kita akan pasti merasa murka dan marah kerana kita merupakan ketua pada waktu itu.

Akan tetapi Saidina Umar Al-Khattab r.a. mengatakan. "Benar. Telah benar perempuan tua ini, telah salah Umar." Allah!! Hebat. Kenapa? Kerana iman. Kerana dia merasa menerima daripada nasihat, peringatan dan nenerima kebenaran. Inilah orang-orang yang mempunyai iman.

Akan tetapi, orang yang tidak mahu menerima kebenaran namanya adalah takabbur atau sombong. Itulah hakikat kesombongan, Kata  Baginda Rasulullah s.a.w. "Adalah apabila orang itu disampaikan kebenaran kepadanya, dia menolak dan tidak mahu menerima. Inilah takabbur yang hakiki iaitu takabbur yang sebenar-benarnya." kata Nabi s.a.w.


~ Habib Najmuddin bin Othman Al-Khered Hafidzohullah.


Monday, 5 February 2018

HANYA DENGAN RAHMAT-NYA



Berbicara barang sebentar berkaitan RAHMAT Allah s.w.t. Kadang-kadang orang tersilap dalam memahami kedudukan sebenar rahmat. Ada rahmat yang diturunkan buat umat sebagai ujian dan cubaan. Dan ada juga rahmat yang diturunkan Allah s.w.t. sebagai salah satu pemberian dan anugerah darinya.

Untuk mnegetahui asasnya, wajar untuk kita merenung sedikit betapa agungnya Rahmat Allah s.w.t. Dalam al-Quran al-Karim, perkataan rahmat boleh ditemui sebanyak 124 kali dalam ayat dan surah yang berbeza. Terkadang ia membawa maksud mengasihani, juga kasih sayang serta belas ihsan. Perhatikan antara contoh ayat rahmat yang dipaparkan.

Rahmat Allah Luas

Rahmat Allah s.w.t. tersangat luas sebenarnya. Tetapi, pemahaman kita terhadap konsep rahmat Allah s.w.t. ini  terlalu sempit. Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud:
"Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan dalam dunia ini dan juga di akhirat, sesungguhnya kami kembali kepada-Mu. Allah berfirman: Azab-Ku akan aku timpakan kepada sesiapa yang Aku kehendaki, dan rahmatKu meliputi setiap sesuatu; maka Aku akan menentukannya, bagi orang yang bertakwa, dan yang memberi zakat, serta orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." [Surah al-A'raaf 7:156]

Allah s.w.t. sendiri yang mengucapkan bahawa rahmat-Nya terlalu luas hingga tidak terbilang. Manakala dalam suatu hadis, Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud:
"Sesungguhnya Allah telah menciptakan rahmat. Pada hari Dia menciptakannya, Dia menjadikannya sebanyak 100 rahmat. Dia menyimpan di sisi-Nya 99 rahmat. Dia hantar kepada semua makhluknya satu rahmat. 

Seandainya orang kafir tahu tentang semua rahmat yang ada di sisi Allah, mereka tidak akan berputus asa daripada memasuki syurga. Seandainya orang beriman tahu semua azab yang ada di sisi Allah, dia tidak akan berasa selamat daripada neraka." [Riwayat al-Bukhari]


Hanya satu dari 100 rahmat Allah s.w.t campakkan ke atas muka bumi. Baki daripadanya disimpan untuk diagihkan di akhirat kelak. Ini menunjukkan bahawa rahmat Allah s.w.t.  masih terlalu banyak yang seharusnya untuk kita kejar bagi meraihnya. Kejar dalam maksud bertakwa kepada Allah s..w.t. serta meraih pandangan dari sisi-Nya.


Hanya dengan Rahmat-Nya

Terlebih penting untuk kita ketahui bahawa masuknya seseorang itu ke dalam syurga atau terselamatnya seseorang itu di alam kubur juga merupakan salah satu dari rahmat Allah s.w.t. Seseorang yang di masukkan ke dalam syurga bukan kerana amalnya, tetapi kerana rahmat Allah s.w.t. Seseorang yang terselamat dari azab kubur juga bukan kerana amal yang diperbuatnya, tetapi juga dari rahmat Allah s.w.t.

Amal itu hanya sebagai suatu perantaraan untuk kita meraih pandangan-Nya. Amal yang ditawjjuhkan hanya kepada Allah s.w.t. bagi meraih pandangan-Nya bagi memperolehi rahmat-Nya. Nabi s.a.w. bersabda : "Tidak ada seorang pun diantara kalian yang amalannya memasukkannya ke dalam syurga dan melindunginya dari neraka. Tidak juga aku, kecuali dengan rahmat dari Allah." [Riwayat Muslim]

Imam Ibn Kathir dalam kitab tafsirnya mengulas: "Amalan soleh yang kalian kerjakan itu menjadi sebab kepada berolehnya rahmat Allah s.w.t. kepada kalian, kerana sesungguhnya tidaklah seorang itu masuk ke dalam syurga disebabkan amalan yang dikerjakannya, tetapi disebabkan keagungan-Nya dan luasnya rahmat-Nya. Hanya yang membezakan darjat itu sahaja disebabkan oleh amal-amal yang dilakukan oleh kalian."


~sumber majalah solusi.

Sunday, 14 January 2018

TENTANG MENJAGA



Menghafal al-Quran akan mengajari kita bahawa menjaga selalu terasa lebih berat daripada mendapatkan, tapi darinyalah kamu akan memahami erti penting komitmen dan tanggung jawab.

Seandainya kamu tahu tingginya usaha untuk menjaga daripada mendapatkan, nescaya kamu akan bersyukur dan tidak akan semudah itu untuk melepaskan atau melupakan.

Seprti halnya seorang ayah yang telah merawat puteri kesayangannya sejak kecil, menjaganya dengan penuh kasih sayang dan tak akan mudah melepaskannya untuk seorang lelaki yang mau tak mau yang harus dipercayainya.

Bisa jadi sebesar apa perjuangan kamu dalam menjaganya, sebesar itu pula cintamu kepada-Nya.

~quraners.




Friday, 12 January 2018

AWAS PENYAKIT DI HATI



Firman Allah s.w.t., "Dalam hati mereka  ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka seksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." [Al-Baqarah:10] Daripada ayat ini dan ayat-ayat lain, kita tahu bahawa:

~    Seperti juga penyakit yang menyerang tubuh, hati manusia juga boleh berpenyakit. Berbeza dengan penyakit fizikal tubuh yang kesakitannya dirasai di dunia, penyakit spiritual di hati dirasai peritnya apabila mendapat seksaan di neraka.

~      Orang yang beriman hendaklah mengawasi tanda-tanda penyakit spiritual hati seperti cemburu, dendam, kebencian, cinta dunia dan sebagainya kerana ia boleh membawa kerosakan.

~      Mengekalkan dosa, termasuk dosa-dosa kecil dan kelalaian melakukan ibadah dan zikir boleh menyebabkan penyakit hati.

~    Berhati-hatilah agar hati yang berpenyakit akan lebih berpenyakit dengan izin Allah, jika seseorang itu tidak berusaha menyucikannya.

~      Orang yang mempunyai hati bersih tanpa penyakit akan diberi  sesuatu yang lebih baik oleh Allah s.w.t. sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Anfaal:70: "Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu,nescaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

~      Penawar penyakit hati adalah al-Quran. Firman Allah s.w.t. dalam surah Yunus: 57, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran daripada Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit [yang berada] dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Sama-samalah kita menjaga hati agar bersih serta sihat, dan tidak membiarkan dihinggapi penyakit yang menyebabkan kita lupa dan jauh daripada-Nya....Aamiin.


* PENYAKIT HATI mempunyai dua kategori utama menurut Ibnu Qayyim: PENYAKIT WAHAM [syak wasangka atau keraguan] dan PENYAKIT NAFSU.



Saat kita dewasa, kita akan semakin belajar untuk mati rasa pada banyak hal. Hingga satu waktu, hal-hal yang dulu menyakiti kita dengan muda...